[FF] I Can’t

I Can’t

Author : Cute HyoRa (@xingmi__)

Genre : Romance, Sad, etc

Lenght : 1.901 word

Main Cast :

|| Hyoyeon || Sehun ||

Stroryline is mine. No bash. Don’t like, don’t read!

 

 

Ini adalah kisah hidupku. Mungkin hanya aku yang mengalami. Kalian tau, aku menyesal hidup seperti ini. Setiap hari selama 15 tahun, ya umurku sudah 15 tahun. Selama itu selalu itu saja masalah yang kudapati dan penyebab utamanya adalah tetanggaku sendiri. Oh Sehun, dia adalah laki-laki bertubuh tinggi, suara yang cempreng, sok kepedean, mengangguku dan pokoknya hal buruk lainnya. Dan yang paling kubenci adalah dipagi hari.

“Hyoyeon, kau sudah siap berangkat sekolah?” tanya ibuku sambil mengelus pucuk kepalaku. Akupun mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Ya, seperti biasa aku harus menunggu Sehun dulu” balasku.

15 menit aku sudah duduk diam disofa ruang tamuku ini. Namun, tak ada juga tanda dari Sehun bahwa dia akan datang menjemput. Akupun mencoba melangkahkan kakiku. Belum semeter aku berjalan, tiba-tiba suara besarnya sudah mengagetkanku.

“Hyoyeon, mianhae. Aku tadi kesiangan. Mianhae” ucapnya.

“Ah, kau dari kecil memang tak pernah tepat waktu” kataku kesal.

Sehun pun langsung menenteng tasku. Tanpa ba-bi-bu lagi dia sudah menarik tanganku.

“Sudah, jangan banyak tanya. Kita sudah terlambat!” ucapnya. Dasar, sudah terlambat tapi sok cepat pula. Hufft.

 

Bukan itu saja, tapi Sehun adalah sosok pemalas dan malas berpikir. Kerjanya selalu menyontek, menyontek dan menyontek. Pernah sekali dia menjemputku tepat waktu dirumah. Eh, ternyata dia melakukan itu hanya karena ingin menyontek PR-ku!

“Tumben sudah menjemput pagi begini” kataku sakarsatis.

“Mwo? Kau ini selalu negatif thinking padaku, Hyo” jawabnya dengan nada memelas.

Ketahuan, pasti anak ini ada maunya.

“Cepat. Kau mau apa?” tanyaku lagi.

“Sebenarnya aku belum mengerjakan PR Kimia minggu kemarin. Hehe, aku lihat punyamu ya?” tanyanya lagi. Sudah kuduga! Akupun mengeluarkan buku yang sudah jelas kutahu ciri-cirinya dari dalam tas besarku.

“Ini” kataku.

Dengan cepat lengan besarnya mengambil buku latihan Kimia ku. Terdengar jelas nafas kelegaan darinya. Jelaslah, ia sudah dapat contekan.

 

Pokoknya tidak ada yang baik dari seorang Sehun. Walaupun banyak teman wanitaku yang iri karena aku bisa dekat denganku tapi bagiku tidak! Dia pangganggu, parasit! Sehun selalu menyusahkanku dalam hal apapun.

Aura kecemasan terasa jelas sekarang. Tiba-tiba Sehun menyenggol tanganku dan mulai berbisik, “Hyo, ini gawat!” katanya. Akupun menghentikan suapan spaggeti-ku.

“Maksudmu apa?” tanyaku bingung.

“A-aku lupa bawa dompet” bisiknya lagi.

Akupun membulatkan mulutku dan memasang wajah geram.

“Lalu bagaimana?” tanyaku lagi.

“Apanya bagaimana? Tentu saja pake uangmu dulu. Ok, tolong aku lah” katanya memelas.

Dengan berapi-api  akupun menyuruhnya untuk mengambil uang dari dalam tasku.

“Sudah berapa kali kau begini?” tanyaku.

“Aku janji akan menggantinya, Hyo” jawabnya.

Dasar, parasit! Bilang saja tidak punya uang. Tapi sok membawaku makan-makan direstoran. Dasar!

 

Ya, itulah contoh dari keparasitannya. Selalu membuatku marah, kesal. Bahkan dirumah saatku bersantai dalam kamar. Bisa-bisanya kaki panjangnya itu masuk kamarku tanpa izin dengan melewati jendela. Harus kuakui, kamar kami hanya bersebelahan. Jadi jika mempunyai keberanian dan tentunya tidak punya malu seperti dia bisa saja masuk lewat jendela.

“Hai!” katanya sambil menepuk bahuku.

Aku yang sedang mendengarkan musik dari earphoneku pun tersentak kaget. Akupun melepas earphone ku dan berbalik.

“Ya, dasar! Bisa-bisanya kau melakukan ini setiap hari! Kau mau membuatku mati muda karena jantungan?” tanyaku dengan marah.

“Nah akukan sudah melakukan itu setiap hari. Kenapa kau masih tidak peka dan ingat. Setidaknya kau tidak terkejut lagi” katanya dengan nada mengejek.

Suara ranjangku yang berdenyit pun terdengar jelas ditelingaku.

“Hei, Sehun! Jangan kotori ranjangku dari kaki baumu. Jangan loncat-loncat!” usirku.

“Sekali-kali lah Hyo. Kamar perempuan ternyata lebih empuk” cerocosnya.

Hap, hap, hap!

Ditangkapan ketiga akhirnya kudapat juga kaki panjangnya yang usil itu. Langsung kutarik kebawah.

“Ayo, kau tidak mau turun” ancamku lalu menggelitik telapak kakinya. Biasanya jika begini dia langsung kegelian.

“Ampun! Ampun. Hahaha, kau selalu mengetahui kelemahanku!” katanya ampun lalu turun dari ranjang bermotif bunga milikku itu.

 

Aku memang mengetahui kelemahan darinya. Dia orangnya suka geli jika digelitik kakinya. Dia juga takut pada kecoa. Pernah sekali dia berteriak ditengah kantin sekolah karena melihat kecoa yang besarnya 1 banding 1000 dari tubuh besarnya. Dasar penakut! Dan satu lagi kebencianku pada Sehun. Dia adalah penggemar berat Avenged Sevenfold! Setiap hari dia menyanyikan lagu-lagu dari band itu untukku. Aku tau, lagu-lagu dari band itu sangat keren dan membuat kita bersemangat. Tapi, yang harus dicatat dan yang harus digaris bawahi adalah jika menyanyinya adalah seorang Sehun maka lagu itu tak ada bedanya dengan suara tong kosong yang ditendang oleh pemabuk dijalanan. Bisa kalian bayangkan suaranya yang aneh dan besar itu menyanyi. Mungkin jika aku bisa menjabarkan pasti sudah berapa puluh plastik yang aku muntahi karena mendengar suara cemprengnya.

“Hyoyeon! Kau tau aku sudah mendownload lagi terbaru dari Avenged! Dan kau tau? Aku sudah hafal liriknya. Pokoknya kali ini kau harus mendengarku menyanyi!” katanya bersemangat. Sangat bersemangat bahkan tanganku sudah digoyang-goyangkannya saking semangatnya dia. Oh, ini jalan raya Sehun-ah. Kita masih memakai seragam sekolah. Rutukku dalam hati.

Diapun mulai bernyanyi dengan pedenya. Aku bahkan sudah menutup wajahku dengan buku karena malu takut dilihat orang. Bukannya malah diam, Sehun malah semakin bersemangat. 3 menit berlalu, diapun mengakhiri lagunya dan seperti biasa dia bertepuk tangan seperti orang gila.

“Bagaimana Hyo? Judul lagu itu adalah Dear God. Bagus tidak?” tanyanya lagi. Oh, jadi judulnya Dear God? God, normalkanlah sahabatku ini, amin. Bagaimana bisa dia bertanya begitu. Sepertinya telinganya sudah tersumbat oleh suara dari vokalis band itu sendiri makanya dia selalu menyangka kalau  suaranya bagus.

“Lumayan” jawabku.

“Apa? Lumayan? Kau tidak mendengar bahwa suara semerdu itu? Harusnya kau berkata “Daebak!!!” Sambil meloncat-loncat tau!” katanya.

Dengan terpaksa akupun melakukannya. Tawa lebar Sehun  pun bergeming kembali ditelingaku. Memuakkan!

 

Begitulah hidupku. Selalu saja Sehun, Sehun dan Sehun yang mendominasi dari semua kegiatanku. Tapi apa? Semua hanya membuatku kesal dan marah. Aku benar-benar benci dia! Parasit! Pemalas! Enyah kau dari hidupku Oh Sehun!

Tapi..

Tunggu dulu..

Tapi..

Sehun adalah sosok malaikat bagiku. Dia adalah bagian penting dalam hidupku. Dia adalah segalanya. Tanpa dia aku sepi, duniaku sepi. Tiada tawa kebahagiaan, tiada kata-kata konyol. Aku masih ingat saat aku baru berumur 5 tahun. Kau tahu 5 tahun? Mungkin kalian akan dengan mudah mendapatkan teman tapi aku tidak. Semua orang mencemoohku. Mengataiku. Menggunjingku. Tapi tidak untuk Sehun! Dia adalah satu-satunya orang lain yang mau menerimaku. Ya, aku ingat waktu itu.

Olang buta. Olang buta (red: orang buta)” suara 3 orang anak laki-laki bandel sedang mengerubingiku dan berusaha menarik tongkat penunjuk arahku.

“Jangan. Jangan ambil tongkatku” kataku parau dan hampir menangis karena aku sudah tersungkur ketanah. Dalam keadaan begini apa yang harus aku lakukan? Hanya gelap. Derai tawa yang mengejek dan penghinaan yang dapat kudengar. Aku salah karena tidak menuruti pesan eomma untuk tidak keluar rumah. Tapi, aku bosan. Dan inilah akibatnya.

“Makanya kalau kamu buta. Jangan main dicini. Dicini cuma buat olang-olang normal sepelti kami” kata salah satu dari mereka. Dan yang lainnya pun mengiyakan. Aku benar-beanr menangis sekarang. Mengapa aku terlahir buta? Kenapa harus aku?

“JANGAN GANGGU DIA” tiba-tiba suara anak laki-laki lain datang. Ketakutanku semakin menjadi-jadi, takut anak itu juga akan mengejekku.

“Kenapa Thehun, Hyoyeon kan buta. Untuk apa kita berteman dengan dia?”

“Kalian itu jahat. Kembalikan tongkatnya” kata anak yang dipanggil Thehun atau lebih tepatnya Sehun itu.

Beberapa saat kemudian 3 orang anak itu pergi. Anak laki-laki yang membelaku tadipun membantuku berdiri dan memberikan tongkatku.

“Kamu nggak apa-apa?”

“Enggak” jawabku sambil menghapus airmataku.

“Udah jangan nangis. Nanti jika ada yang mengganggumu lagi maka olang itu akan itu akan berhadapan denganku” jelas anak itu lalu mendudukanku dibangku taman.

“Iya, makasih ya? Namamu siapa? Aku Hyoyeon” kataku sambil menjulurkan tanganku kedepan.

“Aku Thehun. Aku sudah tau namamu. Selama ini kita bertetangga. Hanya saja aku takut menegulmu dan kamu tidak pelnah kelual lumah jadi kita baru kenalan kali ini deh” jelas Sehun dengan polosnya.

 

Dari situlah aku mulai mengerti bahwa hidup ini indah. Karena Sehun lah aku jadi bersemangat. Pada awal kami mau masuk sekolah. Sehun menangis pada ayahnya. Ya, suara tangisannya terdengar jelas dari kamarku. Aku tau mengapa dia menangis karena dia sudah bercerita padaku kalau dia ingin satu sekolah denganku agar dia bisa menjagaku. Tapi, keadaanku memaksa agar aku masuk sekolah luar biasa. Sekolah khusus untuk anak-anak cacat. Disekolah, tidak ada yang mengejekku. Karena kami sama. Kami sama-sama buta. Ada yang tuli, cacat dan sebagainya. Hingga akhirnya pada mau masuk SMP, aku dimasukkan kesekolah yang sama dengan Sehun. Kenapa? Karena menurut guru IQ ku cukup tinggi untuk masuk sekolah normal. Dari situlah, aku dan Sehun tak pernah terpisahkan seperti permen karet. Tapi karena keadaanku, dia selalu mendapat impas. Maafkan aku Sehun.

“Sehun-ah, kamu lengket sekali dengan gadis buta itu” ejek temannya. Saat itu Sehun sedang bersamaku ditaman sekolah. Namun lagi-lagi Sehun selalu membelaku.

“Aku lebih baik berteman dengannya daripada kalian! Kalian jahat, tidak punya perasaan!” tandas Sehun. “Ayo, Hyo. Kita pergi dari sini” katanya lalu menarik tanganku.

 

Terkadang aku menangis dalam malam-malam sunyi. Aku menyesal dengan keadaanku. Aku menyesal karena selalu menyusahkan orang-orang dekatku. Appa, eomma, Taeyeon kakakku dan Sehun tentunya. Sehun selalu ada untukku. Membantuku. Mengajariku hal baru. Saat aku ulangtahun ke 13 dialah orang pertama yang mengucapkan kado ultah untukku. Dengan gitarnya dia menyelinap kekamarku dan menyanyi. Suara Sehun memang tak sebagus suara vokalis Avenged Sevenfold atau mungkin Bryan Adams, penyanyi favorite-ku. Tapi, aku beruntung ternyata ada orang yang mau menyanyikan lagu ultah untukku tepat jam 12 malam. Kau tau betapa bahagianya aku? Kadang aku merasa bersalah padanya karena selama ini aku lah yang sering membuatnya bangun siang. Karena dia sering membantuku untuk mengerjakan PR.

“Kau hari ini ada PR ya?” tanya Sehun tiba-tiba.

“Sehun, kau kah itu?” tanyaku takut-takut karena hari sudah malam.

“Tentu saja. Hmm, kau sedang mengerjakan PR B. Indonesia ya? Biar kubantu” katanya lalu mengambil buku tulis Bahasa Indonesiaku.

“Oh ini, bukankah kita disuruh menulis puisi. Cepat katakan apa yang mau kau tulis, nanti biar aku yang menulisnya.” kata Sehun tulus.

Akupun mulai mendektekannya, ya semua ide memang ada dikepalaku. Tapi Sehunlah yang menuliskannya untukku.

Itulah Sehun. Bagiku Sehun adalah bagian dari tubuhku dan juga hidupku.

“Hyoyeon, aku mau balik kekamar dulu ya? Semua jawaban sudah kutulis dibuku tulismu” kata Sehun sambil menguap.

“Nde, terimakasih Sehun. Oiya, kau tidak mau menyalin jawaban ini. Bukankah kita menyelasaikannya bersama-sama?” tanyaku.

“Oh itu. Besok saja, aku sudah mengantuk. Aku pulang dulu, bye” katanya lalu suaranya tidak terdengar lagi.

 

Ya, itulah Sehun. Dia tak sepenuhnya menyontek, toh dia kan yang menuliskan semuanya untukku?

 

 

“Sehun” panggilku.

“Hmmm” jawabnya sambil mengunyah makanannya.

“Kau tak bosan?” tanyaku.

“Bosan kenapa?” nada suaranya meninggi.

“Kita. Kita sudah bersama dari kecil. Kau tau aku, dan aku tau kau. Apa selama ini kau tidak bosan atau malu bergaul denganku. Aku buta, Sehun. Apa kau tidak berpikir untuk memiliki kekasih?” tanyaku langsung.

“Kekasih? Haha, untuk apa aku memikirkan itu? Kekasih hanya membuatku terkekang. Aku lebih suka denganmu. Aku tidak malu, kau bukan pencuri kan? Untuk apa malu?” jawab Sehun. Aku terkekeh mendengarnya. Benar juga, tapi tetap saja aku ini buta. Tidak normal!

“Sehun?”

“Hmmm” balasnya lagi.

“Bo-boleh aku meminta sesuatu?” tanyaku takut-takut.

“Apa? Pasti akan kuturuti. Apa saja! Kau mau aku membawakan tembok China untukmu. Ok, pasti kulaksanakan” jawab Sehun asal bunyi.

“Bukan itu! Tapi, bolehkah a-aku memegang wajahmu?” tanyaku lagi.

Sehun diam dan menghentikan aktifitas mengunyahnya. Dia pun meletakkan makanannya lalu wajahnya menghadap kearahku. Aku tau itu, karena nafasnya yang menerpa wajahku. Diapun memegang tanganku dan mengangkatnya.

“Peganglah. Dan imajinasikan bagaimana rupaku” kata Sehun.

Dengan hati-hati aku memegang wajahnya. Pertama pipi. Ya, pipi tirus yang begitu mulus dan rahangnya yang tegas. Ini mengingatkanku pada sudut siku-siku. Haha. Lalu hidungnya. Hidungnya yang mancung. Beda denganku. Haha. Untuk kedua kalinya aku terkekeh pelan, raut wajah Sehun pun tertarik. Dia tertawa juga rupanya. Ketiga bibir. Bibir pulm-nya. Sekarang imajinasiku hampir sempurna. Lalu kebagian atas. Alis, bulu mata dan matanya. Indah, aku yakin itu. Pasti sosok Sehun begitu indah sesuai dengan hatinya. Dan terakhir rambut. Rambutnya terasa lembut dan lebat. Imajinasiku sempurna sekarang. Aku yakin, Sehun benar-benar tampan dan sempurna.

“Pasti kau benar-benar tampan Sehun” kataku lalu sambil menarik tanganku dari wajahnya.

“Tentu saja! Asal kau tau, setiap hari aku selalu mendapatkan banyak surat kaleng dari fangirl-fangirlku diloker. Dan kadang surat-surat itu terselip ditempatmu karena  lokerku yang sudah kelebihan kuota. Haha” tawa Sehun pecah. Aku pun ikut tertawa bahagia.

“Aku benar-benar ingin melihatmu secara nyata. Mungkin suatu saat nanti” kataku tiba-tiba. Kris pun terdiam lalu mengelus rambutku.

“Ya, aku janji. Suatu saat nanti kau akan bisa melihat dunia ini. Dan tentu saja wajah tampanku. Aku janji, Hyo” Sehun pun memelukku.

“Janji?” tanyaku lagi.

“Ya, aku janji.” jawabnya.

Akupun menarik sudut bibirku dan mulai tersenyum. Ya, aku yakin. Suatu saat nanti aku pasti bisa melihat wajah Sehun. Wajah sempurnanya dengan tingginya yang mungkin dua kali dari tinggi badanku. Aku yakin, Sehun pasti selalu menepati janjinya. Terimakasih Tuhan, kau sudah menitipkan laki-laki berhati malaikat sepertinya padaku. Tanpa dia, aku tidak bisa, aku tak mampu dan tentu saja aku bukan apa-apa. Sehun, I can’t without you.

 

END

Advertisements

7 thoughts on “[FF] I Can’t

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s